Aku ingin menceritakan sebuah kisah dari seorang perempuan yang mana ia telah menjadi perempuan yang hancur dan porak-poranda hati juga jiwanya dikarenakan dua hal yang menjadi hal umum terjadi dalam kalangan anak muda zaman sekarang. Seorang anak perempuan yang sudah hidup sendirian dari sejak dia bersekolah di bangku sekolah menengah atas. Ia berusaha mencoba untuk mengubah dunia nya dan menggapai impiannya, juga sebagai makhluk hidup yang masih Allah beri nyawa dia berusaha untuk fight demi bertahan hidup, demi senyum yang sempat hilang dari hari-harinya, demi tawa yang bahkan tak pernah kembali dalam wajahnya, terlebih ada kebahagiaan yang ia cari dan sudah dia janjikan untuk mewujudkannya jauh sebelum kesedihan, kehancuran atas kehilangan dua sayapnya(kedua orang tuanya) itu terjadi.
Merantau jauh dari tanah pijakan dia ketika lahir ke dunia sampai akhirnya berlabuh pada tanah timur nya Indonesia. Anak perempuan yang dipenuhi dengan mimpi dan cita-cita yang mana semua dia isi dengan selalu berpikiran positif setiap saat. Yang selalu menggantungkan segala harapan hanya pada Tuhannya. Bahkan kesedihan sudah menjadi bagian yang kebal untuk ia lewati. Akan tetapi lain dari kesedihan yang ia hadapi ketika ia mulai mengenal seorang pria dalam hidupnya. Anak perempuan itu begitu sangat polos dan tulus jika menyayangi seseorang. Terlebih dia tidak mempunyai siapapun lagi di dunia ini selain hanya keluarga yang tersisa yaitu kakak-kakaknya. Saat bertemu dengan seorang laki-laki yang mana laki-laki itu membawakan seribu satu kata-kata indah yang selalu mewarnai hari-hari anak perempuan itu.
Dalam waktu yang singkat laki-laki itu mampu membuat jatuh hati si anak perempuan itu, laki-laki yang selalu menganggap dirinya bukan lah apa-apa untuk di cintai. Tapi begitu dahsyat dalam mengungkapkan kata cinta dalam setiap detiknya sehingga membuat si anak perempuan itu merasakan bahwa dia menemukan sosok pasangan,kakak, dan juga ayah dalam diri laki-laki itu. Tapi perasaan itu hancur hanya dalam waktu beberapa menit sebelum waktu sholat ashar. Setelah mendengar bahwa laki-laki itu akan menikah dengan perempuan lain yang mana satu perkampungan dengannya. Seketika diri yang dipenuhi rasa percaya akan kebesaran Allah. Dibuat tidak berdaya hanya dengan satu kabar buruk yang mana itu adalah bagian dari sepenggal pengalaman spiritual yang akan menghantarkan dia menuju perubahan besar.
Selama bersama, mereka saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, namun tidak berniat untuk berpacaran karena anak perempuan itu hanya ingin dinikahi bukan untuk di pacari saja. Lalu laki-laki itu banyak menjanjikan sebuah masa depan yang indah pada perempuan itu. Membuat perempuan itu semakin yakin dan bersemangat untuk selalu berdoa kepada Tuhannya agar bisa dipersatukan dengan laki-laki yang ia cintai. Tidak ada satu hari pun ia lewati dengan tidak merayu Tuhan melalui rangkaian indah dalam ibadahnya juga lantunan ayat suci dan doa yang berkumandang dalam setiap detik dan waktu yang diperuntukan untuk berdoa. Sampai pada akhirnya ambisi bersembunyi dalam sebuah harapan itu sendiri. Yang awalnya menggantungkan segalanya pada Tuhan sampai akhirnya menjadi memaksa Tuhan untuk mewujudkan.
Rasa bergantung pun menjadi beralih pada manusia itu sendiri. Perempuan itu menangis meraung memohon untuk bisa menikah dengan laki-laki itu, begitupun dengan laki-laki itu ia selalu berbicara seperti ini "Gua minta tolong yaa banyak berdoa dan minta sama Allah biar elu jadi jodoh gua, biar Allah ubah keadaannya". Saat dia berbicara seperti itu banyak seribu tanda tanya dalam pikiran si perempuan. Ternyata dia bilang seperti itu karena ada sesuatu hal besar yang ternyata ia tutupi dan akan terjadi dalam waktu dekat. Nasib malang pun melanda si anak perempuan itu, dari mulai hancur dan trauma akan pembicaraan orang-orang tentang perayaan pernikahannya yang seakan satu dunia memberi tahu si anak perempuan itu.
Dalam kisah yang kuceritakan dapat diambil kesimpulan, bahwa kau boleh berusaha, berikhtiar, dan bahkan meminta apapun itu pada Tuhanmu. Tapi ingat dalam hal ini jangan salah konsep soal takdir. Bukan kita yang menentukan, melainkan Tuhan kita. Kita hanya diperbolehkan memiliki usaha dan doa tapi tidak dengan takdir.
Dalam Al-quran surah Al-insyirah ayat 8 sudah sangat jelas. Berbunyi seperti ini:
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب
*Artinya* :" Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap".
Komentar
Posting Komentar