Curhat Rizal Ramli (Menko perekonomi) Kepada Pimpinan MPR RI tentang Harga BBM

Pimpinan MPR Ri dan Rizal Ramli
(Humas MPR RI)
Rizal mengaku sangat prihatin, pemerintah tidak pernah menjelaskan secara terang angka-angka seputar biaya migas. Menurut hitungan Rizal, dengan crude oil price 105 dollar AS, maka economic cost sekitar 8.600 Rupiah perliter. Begitu cruide oil price-nya 80 dollar AS seperti sekarang ini, maka economic costnya semestinya sekitar 7.200 sampai 7.500 Rupiah.
“Dengan kenaikan 2.000 Rupiah menjadi 8.500 Rupiah, kenaikan ini sudah diatas economic cost dan ini sudah melanggar dan bertentangan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang memutuskan bahwa pemerintah tidak boleh menaikkan harga komoditas strategis di atas biaya ekonomis, komoditas strategis tidak boleh diserahkan ke pasar,” ujarnya.
Soal BBM ini, lanjut Rizal, masalahnya sangat kompleks. Masalah seputar migas yakni, Pertama, antara lain soal mafia migas. Keuntungan para mafia ini bisa diatas 30 trilyun Rupiah. Yang kedua, Indonesia mesti mengurangi cost recovery, sebab produksi minyak bumi turun sampai 40 persen, sedangkan biaya produksi naik.
Kalau bisa ditekan, maka Indonesia bisa melakukan cost saving sampai 60 trilyun Rupiah. Yang ketiga, pemerintah harus membangun kilang minyak baru dengan kapasitas besar, sebab produksi BBM dan minyak tanah akan terus meningkat.
Solusinya, menurut Rizal, sangat sederhana yakni, pemerintah harus menghapuskan premium. Sebab, premium di Indonesia terlalu bagus oktannya di angka 88. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat saja bensinnya hanya beroktan dikisaran 83 dan 86. Karena oktan di Indonesia bagus, itulah yang menjadi penyebab mengapa orang kaya bermobil bagus masih memakai premium.
“Kita harus mengganti premium dengan BBM rakyat dengan oktan di angka 80 sampai 83. Harganya bisa ditekan turun 800 Rupiah dari harga awal 6.500 Rupiah perliter. Jika itu dilakukan, maka mereka yang memiliki mobil bagus tidak akan berani memakai BBM bersubsidi dengan oktan di angka 80-83. Oktan ini hanya cocok untuk 86 juta sepeda motor, 3 juta angkot tua dan 2 juta perahu motor nelayan. Ini yang harus diperhatikan. BBM Pertamax kalau perlu bisa dinaikan lebih tinggi lebih baik, agar ada prinsip subsidi silang. Kalau kita lakukan ini, pemerintah tidak akan menanggung subsidi 230 trilyun Rupiah, malah pemerintah akan mendapat tambahan sekitar 130 trilyun Rupiah,” terangnya.
Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR EE. Mangindaan dan Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang mendengarkan apa yang disampaikan Rizal Ramli. Menurut Zulkifli Hasan, MPR menerima elemen masyarakat yang ingin menyampaikan sesuatu tentang keadaan negara ini dan Rizal Ramli adalah salah satu warga bangsa yang juga harus didengar dan menjadi catatan. Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang menawarkan agar membawa hal tersebut juga ke DPR untuk dilakukan konfirmasi apakah pemerintah sudah membicarakan soal kenaikkan BBM ini dengan DPR RI./dry
sumber : www.mpr.go.id/berita
Komentar
Posting Komentar